Apapun Yang Baik Cari Di Sini

Loading...

Analisis Butir Soal Dalam Evaluasi

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308). Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.
Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172) atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham, 1995: 195). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.
Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan).
Manfaat Soal yang Telah Ditelaah
Tujuan utama analisis butir soal dalam sebuah tes yang dibuat guru adalah untuk mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran (Anastasi dan Urbina, 1997:184). Berdasarkan tujuan ini, maka kegiatan analisis butir soal memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah: (1) dapat membantu para pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan, (2) sangat relevan bagi penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa di kelas, (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif, (4) secara materi dapat memperbaiki tes di kelas, (5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas (Anastasi and Urbina, 1997:172). Di samping itu, manfaat lainnya adalah: (1) menentukan apakah suatu fungsi butir soal sesuai dengan yang diharapkan, (2) memberi masukan kepada siswa tentang kemampuan dan sebagai dasar untuk bahan diskusi di kelas, (3) memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa, (4) memberi masukan pada aspek tertentu untuk pengembangan kurikulum, (5) merevisi materi yang dinilai atau diukur, (6) meningkatkan keterampilan penulisan soal (Nitko, 1996: 308-309).
*Isi artikel di atas merupakan sebagian intisari dari Bab Pendahuluan yang terdapat dalam buku "Pedoman Analisis Butir Soal Tes". Semoga bermanfaat saja, Amin !.

Menulis Huruf Arab Dengan Software Arabic Pad

Arabic Pad
Ada informasi menarik dan sudah tentu akan sangat membantu sekali terutama bagi yang suka menulis atau mengetik di komputer menggunakan tulisan berbentuk huruf-huruf Arab. apalagi komputernya yang menggunakan OS non Arabic Windows, karena keyboarnya tidak mendukung dalam mengetik tulisan dalam bentuk huruf  Arab tersebut.

Informasi ini didapatkan dari blognya saudara :ebsoft.web.id. yang
sengaja saya sharing terutama barangkali bagi anda yang membutuhkan software yang dapat memfasilitasi serta memudahkan anda dalam membuat tulisan juga dalam mengedit tulisan dalam bentuk huruf-huruf Arab.

Sebetulnya yang saya tahu windows juga telah menyediakan fasilitas seperti itu,  yaitu dengan cara melakukan setingan pada language infut method di control panel. tetapi hal ini sangat sukar dalam penggunaanya karena kita harus hapal betul tombol-tombol huruf Arabnya di keyboard.

Dengan Software Arabic Pad ini anda akan mudah menulis dan mengedit tulisan dalam bentuk huruf arab. Karena tombol-tombol huruf-hurufnya juga tidak jauh berbeda dengan tombol huruf latin yang biasa kita gunakan. untuk lebiha jelasnya lihat saja tabel konversi tombol karakter huruf Arab pada keyboard di bawah ini:

Main Arabic Letters

Arabic Key  Arabic Key  Arabic Key
ا             a        ز        z        ق        q
ب           b       س       s        ك         k
ت           t        ش       S       ل          l
ث           Z       ص      c        م         m
ج            j       ض      C       ن         n
ح           h        ط        p       و         w
خ           K       ظ        P        ه         h
د            d        ع         ‘         ء       x
ذ           D        غ        g        ى       Y
ر           r        ف        f        ي        y
Arabic Key  Arabic Key  Arabic Key
أ            E          ؤ      W         ة        T
إ            I          ئ       O

Harokat (Baris dan Tanda Baca)

Arabic Key  Arabic Key  Arabic Key
Fatha َ    e     Fathatan ً ee Sukun ْ o
Kasra ِ i  Kasratan ٍ ii ٓ ~
Dhomma ُ u  Dhammatan ٌ uu Hamza above ٔ <
Inverted Dhamma ٗ U Shadda ّ v  Hamza below ٕ >
Superscript Alif ٰA Subscript Alif ٖ II

Additional for JAWI
Arabic Key  Arabic Key  Arabic Key
چ            J        ڤ        F        ۏ        V
ڠ           G        ڬ        X        ڽ        N

For other text such as number ( 0 ..9 ), comma (,), dot (.), semicolon (;), Question mark(?), Percent sign(%), five pointed star (*), and underscore ( _ ) just equal with normal alphabet.

Nah, mudah kan ? Tombol karakter huruf-hurufnya tidak jauh berbeda dengan tombol karakter huruf latin yang sering kita gunakan. Apalagi software ini sangat kecil sekali dan sifatnya portabel. Artinya tidak perlu diinstal dikomputer. Anda hanya tinggal mengextrak saja, karena software ini dikemas dalam bentuk RAR. Ababila anda belum mempunyai software program pembaca file yang berextensi rar atau zip, silahkan instal dulu software atau programram pembaca rar atau zip tersebut dengan cara googling !, banyak yang gratis atau shareware.

Bagi pengguna windows 2000 atau windows XP silahkan baca terlebih dahulu petunjuk khususnya, karena ada settingan yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menggnakan software Arabic Pad ini.

Lebih jelasnya buka saja blog sumber software Arabic Pad ini.. sekaligus anda langsung mendownloadnya..?!! Ini linknya ya..: ebsoft.web.id. atau buka saja khusus di sini!.
Selamat mencoba, semoga informasi ini bermanfaat, Amin!.

Contoh Soal USBN PAI SMP Tahun 2013

Gambar ilustrasi
Diawali dengan mengucapkan Bismillah Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah SWT, tak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan alam habibana Muhammad SAW.
Sengaja saya posting materi contoh soal USBN khusus mata pelajaran Pendidikan Agama slam untuk tingkat Sekolah Menegah Pertama unuk Tahun Pelajaran 2012/2013.
 
Materi soal ini hanya contoh saja dan sifatnya prediksi (perkiraan) yang bisa adik-adik siswa/i tingkat SMP bisa pelajari dan juga bisa dijadikan latihan atau semacam tryout khusus dalam menghadapi Ujian Sekolah Mata Pelajaran PAI. Sehingga nantinya diharapkan kalian sudah memiliki kesiapan mental dalam menghadapi ujian tersebut.
 
Contoh soal USBN PAI SMP ini terdiri dari lima (5) paket yang sengaja saya ambil secara sharing dari blog lain (muhammadnuralim.blogspot.com). Dengan harapan ini bisa membantu kalian siswa/i SMP khususnya kelas IX sebelum kalian mengahadapi materi soal ujian yang sesungguhnya. juga bagi Bapak/Ibu guru PAI bisa dugunakan sebagai referensi dalam menyusun soal US di sekolah masing-masing atau dibawah koordinasi MGMP.

Atau mungkin bisa Bapak/Ibu jadikan soal-soal latihan awal atau tryout sebelum memasuki masa ujian sekolah yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Sehingga kita berharap dan berdo'a kepada Allah semoga kalian semua dalam ujian nanti diberikan kecerahan dan kecermatan serta diringankan oleh Allah dalam menjawab soal-soal ujian nanti dan dapat memperoleh nilai yang memuaskan, Amin!.
 
Untuk bisa mendapatkan contoh-contoh soal USBN PAI SMP ini sialahkan saja buka linknya dan kemudian download satu persatu materi soalnya sesuai paket soal. Ukuran filenya relatif kecil hanya berkisar 1,9 s/d 2,5 MB. Disamping itu disajikan pula link untuk mendownload kisi-kisi USBN PAI SMP Tahun 2013. Silahkan klik saja daftar link di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat dan Suksess.., Amin !.
  1. Link Download Contoh Soal USBN PAI SMP Tahun 2013
  2. Link Download Kisi-kisi USBN PAI SMP Tahun 2013

Pendidkan Karakter dalam Membangun Kepribadian Generasi Insyaniyah

Penyair Arab mengatakan dalam syairnya yang artinya : "Sesungguhnya kejayaan suatu ummat (bangsa) terletak pada akhlak (karakter) nya, jika akhlaknya runtuh maka runtuh pulalah bangsa itu".
KARAKTER adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pendidikan karakter merupakan sebuah sistem dalam rangka menanamkan nilai-nilai kebaikan pada peserta didik yang meliputi pada pemahaman tentang Pengetahuan Moral (Moral Knowing), Perasaan Moral (Moral Feeling) dan Prilaku Moral (Moral Acting).
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal:  I Undang-undang  Sisdiknas Tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia”.
Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelahknowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engineyang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.
Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.
Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*
(Diintisarikan dari Artikel:  Prof. Suyanto, P.Hd Tentang Urgensi Pendidikan Karakter).

Bercampurnya Amal Yang Ikhlas Dengan Tujuan Lain

Segala puja serta puji hanya milik Allah SWT dan kita senantiasa memuji-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah hanya kepada junjunan kita Nabi besar dan Agung Muhammad SAW, kepada keluarga-Nya, para sahabat-sahabat-Nya dan kita semoga mendapatkan syafa’at Al-udma nanti pada hari qiyamat, Amin!.

Selanjutnya sebagaimana postingan sebelumnya yang mmembahas tentang tema “Ikhlas”. Kenapa ini penting karena seorang muslim dalam mengerjakan setiap amal perbuatan yang baik harus senantiasa mengorientasikan nya dalam dua sisi aitu sisi untuk hidup dan kehidupan di dunia ini terutama haruslah senantiasa berorientasi memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak. Karena itu mudah-mudahan artikel ini dapat menggugah kita ummat muslim untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan dalam setipa amal yang kita kerjakan, Amin!.

Kita awali pembahasannya  sesuai judul di atas, dari perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin yang menjelaskan tentang seseorang yang beribadah kepada Allah, tetapi ada tujuan lain. Beliau membagi menjadi tiga golongan.

Pertama : Seseorang bermaksud untuk taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan seperti membatalkan amalnya dan termasuk syirik, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

"Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya". (HR. Muslim).

Kedua : Ibadahnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub kepada Allah. Amal seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan". (QS. Hud : 15-16).

Perbedaan antara golongan kedua dan pertama ialah, jika golongan pertama bermaksud agar mendapat sanjungan dari ibadahnya kepada Allah; sedangkan golongan kedua tidak bermaksud agar dia disanjung sebagai ahli ibadah kepada Allah dan dia tidak ada kepentingan dengan sanjungan manusia karena perbuatannya.

Ketiga : Seseorang yang dalam ibadahnya bertujuan untuk taqarrub kepada Allah sekaligus untuk tujuan duniawi yang akan diperoleh. Misalnya :
  • Tatkala melakukan thaharah, disamping berniat ibadah kepada Allah, juga berniat untuk membersihkan badan.
  • Puasa dengan tujuan diet dan taqarrub kepada Allah.
  • Menunaikan ibadah haji untuk melihat tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pelaksaan ibadah haji dan melihat para jamaah haji.
Semua ini dapat mengurangi balasan keikhlasan. Andaikata yang lebih banyak adalah niat ibadahnya, maka akan luput baginya ganjaran yang sempurna. Tetapi hal itu tidak menyeret pada dosa, seperti firman Allah tentang jama’ah haji disebutkan dalam KitabNya:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

"Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Rabb-mu……(QS. Al Baqarah : 198).

Namun, apabila yang lebih berat bukan niat untuk beribadah, maka ia tidak memperoleh ganjaran di akhirat, tetapi balasannya hanya diperoleh di dunia; bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya pada dosa. Sebab ia menjadikan ibadah yang mestinya karena Allah sebagai tujuan yang paling tinggi, ia jadikan sebagai sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya. Keadaan seperti itu difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang pembagian zakat, jika mereka diberi sebagian darinya mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta mereka menjadi marah. (QS. At Taubah : 58).

Dalam Sunan Abu Dawud (11), dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ada seseorang bertanya: “Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ! Seseorang ingin berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ingin mendapatkan harta (imbalan) dunia?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Tidak ada pahala baginya,” orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm menjawab,”Tidak ada pahala baginya.”
Imam Bukhary dan Muslim meriwayatkan, dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia berhijrah.

Apabila ada dua tujuan dalam takaran yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan lainnya beratnya sama, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran ialah, bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa.

Perbedaan golongan ini dengan golongan sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada golongan sebelumnya merupakan pokok sasarannya, kehendaknya merupakan kehendak yang berasal dari amalnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia belaka.

Apabila ditanyakan “bagaimana neraca untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam golongan ini, lebih banyak tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?”
Jawabannya adalah: “Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah saja, berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar tertuju untuk ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”. Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan niatnya.

Ada seorang ulama Salaf berkata: “Tidak ada satu perjuangan yang paling berat atas diriku, melainkan upayaku untuk ikhlas. Kita memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan dalam niat dan dibereskan seluruh amal”. Demikian semoga bermanfaat, Amin!.

Spesifikasi Instrumen Penilaian Ranah Afektif

Sebagai kelanjutan dari artikel-artikel sebelumnya yaitu: “Konsep Ringkas Pengembangan Penilaian Afektif” dan “Langkah Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif”,  maka alangkah baiknya menurut hemat saya artikel sebelumnya tersebut dikembangkan lagi secara berkelanjutan sampai menemukan sebuah kesimpulan yang berarti untuk diaplikasikan dalam praktik pembelajaran di kelas. Khususnya dalam melaksanakan penilaian ranah afektif sebagai pengembangan dari bentuk penilaian ranah kognitif dan psikhomotor.

Baik, kita mulai saja pembahasan dari langkah yang pertama yaitu “Merumuskan Instrumen Penilaian”. Menurut teori (silahkan cari) ditinjau dari tujuan penilaian ranah afektif ada lima macam instrumen pengukuran, yaitu instrumen  sikapminat, konsep dirinilai,  dan moral. Silahkan dicermati, diamati serta dianalisa oleh anda uraian ringkas kelima (5) instrumen tersebut yang insya Allah akan saya paparkan secara ringkas di bawah ini.

Instrumen Sikap
Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sejauh mana sikap siswa terhadap suatu objek. Misalnya terhadap kegiatan-kegiatan  sekolah, terhadap Mata Pelajaran,  sikap siswa terhadap guru, sikap siswa berkaitan dengan  aktivitas belajar di kelas dan sebagainya. Sikap-sikap yang ditunjukan siswa tersebut baik  terhadap mata pelajaran dan kepada yang lain-lain bisa positif bisa negatif. Hasil pengukuran sikap berguna sebagai umpan balik (feedback) bagi guru untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.

Instrumen Minat
Instrumen pengukuran minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kadar atau tingkat keinginan serta perhatian siswa terhadap mata pelajaran, yang selanjutnya digunakan untuk merumuskan serta menentukan strategi apa yang dapat meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran. Serta memotivasi mereka dalam melakukan aktivitas belajar di kelas khususnya.

Instrumen konsep diri
Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri (muhasabah). Siswa menilai dirinya sendiri secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Karakteristik potensi siswa sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya. Informasi kekuatan dan kelemahan siswa digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh.

Instrumen Nilai
Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan siswa. Biasanya nilai yang menjadi tolok ukur dan tertanam dalam diri siswa tergantung pada Agama yang dianut dan nilai-nilai budaya dan lingkungan dimana mereka hidup.  Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang   positif dan yang negatif. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan.

Instrumen Moral
Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap Akhlak prilaku keserharian mereka. Informasi tersebut  diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan atau tingkah laku yang ditampilkan dalam kesehariannya. Serta melalui laporan diri melalui pengisian kuesioner atau bisa juga menggunakan kartu kendali. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral serta akhlak perbuatan siswa sehari-hari. Yang pada akhirnya dapat dijadikan salah satu pedoman untuk memberikan penanganan yang tepat dan konprehensif bagi siswa.

Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu memperhatikan empat hal yaitu: (1) tujuan pengukuran, (2) kisi-kisi instrumen, (3) bentuk dan format instrumen, dan (4) panjang instrumen. Setelah menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam pengukuran ranah afektif, maka langkah kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrumen. Kisi-kisi yang berupa  blue-print, merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis sesuai dengan poin-poin tujuan pengukuran tersebut di atas.

Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori-teori yang diambil dari buku teks. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar, yaitu kompetensi yang dapat diukur. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrumen. Kemudian didistribusikan ke dalam tabel format Kisi-kisi Instrumen seperti conoth format di bawah ini :

Kisi-Kisi Instrumen Afektif
No Indikator Jumlah butir Pertanyaan/Pernyataan  Skala
1  
2  
3  
4  
5  

Sebagai langkah awal dalam  pengembangan penilaian ranah afektif sebagaimana dipaparkan dalam halaman postingan ini serta pembahasan yang terdapat pada halaman sebelumnya, barangkali kalau kita sudah memahaminya dengan baik  maka akan mudah dalam melakukan pengembangan pada langkah-langkah  selanjutnya, yaitu:  dalam menentukan skala instrumen, menentukan pedoman penskoran, menelaah  instrument, merakit instrument, melakukan ujicoba, menganalisis hasil ujicoba, memperbaiki instrument, melaksanakan pengukuran, serta dalam menafsirkan hasil pengukurannya. Semoga bermanfaat !.

Langkah Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif

Perlu difahami terlebih dahulu bahwa ada  salah satu teori  dalam Psikologi Pendidikan yang menyatakan yang bunyinya kurang lebih seperti ini: “Perilaku seseorang merupakan fungsi dari watak (kognitif, afektif, dan psikomotor) dan karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan”. Jadi tindakan atau perbuatan seseorang ditentukan oleh watak yang ada dalam dirinya yang berakumulasi dengan kondisi lingkungan dimana seseorang itu hidup.

Berdasarka pernyataan tersebut di atas, salah satu kesimpulan yang dapat dikemukakan  terutama dalam kaitannya dengan langkah penilaian afektif. Bahwa sebetulnya kita bisa melakukan rekayasa atau usaha yang sistematis untuk membentuk watak dan membangkitkan watak prilaku sesorang dengan menanamkan nilai-nilai moral,  akhlah budaya dan agama agar tertanam dalam diri seseorang  watak prilaku yang positif. Terutama dalam hubungannya dengan menanamkan semangat minat serta motivasi belajar siswa. Tentunya juga rekayasa dan usaha yang dipadukan dengan menciptakan lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya semangat, minat serta motivasi belajar.

Ada dua metode yang dapat dugunakan dalam melakukan penilaian ranah afektif, yaitu: "metode observasi" dan "metode laporan diri". Metode observasi didasarkan pada anggapan bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau merupakan reaksi psikologi dan ini bisa dilihat dan diamati. Serta Metode laporan diri didasarkan pada anggapan bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.

Dalam hubungannya dengan  penilaian ranah afektif, maka perlu disusun  Instrumen penilaian afektif yang meliputi lembar pengamatan sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Karenanya penting kita mengetahui terlebih dahulu tentang langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penilaian ranah afektif.

Ada  11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian ranah afektif, yaitu sebagai berikut :
  1. Menentukan spesifikasi instrumen
  2. Menulis instrumen
  3. Menentukan skala instrumen
  4. Menentukan pedoman penskoran
  5. Menelaah  instrumen
  6. Merakit instrumen
  7. Melakukan ujicoba
  8. Menganalisis hasil ujicoba
  9. Memperbaiki instrumen
  10. Melaksanakan pengukuran
  11. Menafsirkan hasil pengukuran
Mari kita fahami sebagian uraianya secara ringkas tentang langkah-langkah penialaian ranah afektif  di bawah ini, o, ow yaa.., ditunda saja dulu ya?  kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang Insya Allah...

Konsep Ringkas Tentang Penilaian Afektif

Hakikat Pembelajaran Afektif
Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar, kecepatan belajar, dan hasil afektif. Andersen (1981) sependapat dengan Bloom bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan.

Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang  berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran, satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif.

Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga  dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat  peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.

Tingkatan Ranah Afektif
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.

1.Tingkat receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
2.Tingkat responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus.  Misalnya  senang   membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
3.Tingkat valuing
Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4.Tingkat organization
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
5.Tingkat characterization
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada  waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.

Karakteristik Ranah Afektif
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif.  Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum.

Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.  
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.

1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya  sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.  Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.

2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. 
Penilaian minat dapat digunakan untuk:
a.mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
b.mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
c.pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
d.menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
e.mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
f.acuan dalam menilai  kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
g.mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
h.bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
i.meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

3. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah.  Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi  konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
  • Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
  • Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
  • Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
  • Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
  • Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
  • Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
  • Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
  • Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
  • Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
  • Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
  • Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
  • Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
  • Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
  • Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
  • Peserta didik mampu menilai dirinya.
  • Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
  • Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

4. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.

Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya  satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.

5. Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada  bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.  
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah afektif lain yang  penting adalah:
  • Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran  dalam berinteraksi dengan orang lain.
  • Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
  • Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
  • Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis  memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
Demikian Uraian Singkat yang insya Allah bermanfaat bagi para praktisi pendidikan terutama bagi guru dalam menjalankan tugas sebagai Penddidik dan Pembelajar. Juga dapat dijadikan salah satu referensi dalam merencaanakan langkah-langkah evaluasi pembelajaran serta membantu dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran khususnya dalam komponen evaluasi. Semoga..!!!.